MALANG – Ada satu momen menarik yang mencuri perhatian dalam rangkaian Tasyakuran Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan peresmian fasilitas DPC PKB Kabupaten Malang. Di antara prosesi pemotongan pita, pelepasan balon hingga penandatanganan batu prasasti, prosesi pemotongan tumpeng justru menyisakan cerita yang menarik untuk dibaca secara simbolik.
Momen itu terjadi ketika Ketua DPW PKB Jawa Timur, Gus Halim, mendapat kesempatan memotong pucuk tumpeng. Setelah dipotong dan diletakkan di atas piring, potongan pertama tumpeng tersebut kemudian diberikan kepada H. M. Sanusi, Bupati Malang yang juga pernah memimpin DPC PKB Kabupaten Malang selama dua periode, yakni 2001–2006 dan 2006–2011.
Namun, tumpeng itu ternyata tidak berhenti di tangan H. M. Sanusi.
Setelah menerima potongan tumpeng dari Gus Halim, H. M. Sanusi justru meneruskannya kepada H. Kholiq, Ketua DPC PKB Kabupaten Malang masa bakti 2021–2026 yang kembali dipercaya memimpin DPC PKB Kabupaten Malang untuk periode 2026–2031.
Prosesi tersebut berlangsung sederhana. Namun, dalam sebuah momentum politik, gestur sederhana terkadang melahirkan tafsir yang menarik.
Dari Ketua DPW PKB Jawa Timur, diberikan kepada Bupati Malang, kemudian dari tangan Bupati Malang diserahkan kepada Ketua DPC PKB Kabupaten Malang.
Apakah hanya kebetulan dalam sebuah prosesi tumpengan? Atau ada isyarat estafet yang terselip di baliknya?
Tumpeng dan Simbol Sebuah Amanah
Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Nusantara, tumpeng bukan sekadar sajian dalam sebuah acara. Tumpeng identik dengan ungkapan rasa syukur, doa dan harapan. Bahkan, penyerahan potongan pertama tumpeng kepada seseorang kerap menjadi simbol penghormatan maupun amanah.
Karena itu, ketika potongan pertama dari Gus Halim diberikan kepada H. M. Sanusi, kemudian oleh H. M. Sanusi justru diteruskan kepada H. Kholiq, adegan tersebut menghadirkan tafsir tersendiri.
Terlebih, ketiga tokoh tersebut berada pada posisi yang menarik.
Gus Halim merupakan Ketua DPW PKB Jawa Timur. H. M. Sanusi merupakan Bupati Malang sekaligus salah satu tokoh yang pernah menakhodai PKB Kabupaten Malang. Sedangkan H. Kholiq merupakan Ketua DPC PKB Kabupaten Malang saat ini yang akan memimpin partai hingga 2031.
Jika dibaca secara simbolik, potongan tumpeng tersebut seolah bergerak dari kepemimpinan partai di tingkat Jawa Timur, menuju kepemimpinan Kabupaten Malang saat ini, lalu berakhir di tangan pemimpin PKB Kabupaten Malang untuk lima tahun mendatang.
Dari Estafet Partai ke Estafet Kabupaten Malang?
Tentu saja, sebuah prosesi tumpengan tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai keputusan politik. Apalagi untuk memastikan siapa yang akan menjadi penerus kepemimpinan Kabupaten Malang pada masa mendatang.
Politik memiliki mekanisme, tahapan, komunikasi dan dinamika tersendiri. Begitu pula dengan pencalonan kepala daerah yang pada waktunya akan ditentukan melalui proses politik dan kehendak masyarakat.
Namun, politik juga tidak pernah sepi dari simbol.
Maka wajar apabila momen tersebut mengundang pertanyaan: apakah estafet potongan tumpeng dari H. M. Sanusi kepada H. Kholiq kelak juga akan menjadi estafet kepemimpinan Kabupaten Malang?
Pertanyaan itu tentu belum perlu dijawab hari ini.
Yang jelas, H. Kholiq kini kembali mendapatkan kepercayaan untuk memimpin DPC PKB Kabupaten Malang masa bakti 2026–2031. Di pundaknya terdapat tanggung jawab untuk membawa PKB Kabupaten Malang semakin solid, memperkuat struktur hingga tingkat bawah, merangkul generasi baru, sekaligus mempersiapkan partai menghadapi agenda politik ke depan.
Sebuah Momen yang Akan Dikenang
Di tengah suasana Harlah ke-28 PKB yang juga menjadi momentum memasuki babak baru kepengurusan DPC PKB Kabupaten Malang, adegan tersebut akhirnya menjadi salah satu cerita menarik dari rangkaian acara.
Jika pemotongan pita menjadi simbol membuka lembaran baru, pelepasan balon menjadi simbol menerbangkan cita-cita, dan penandatanganan batu prasasti menjadi simbol mengabadikan sejarah, maka estafet potongan tumpeng itu dapat dibaca sebagai simbol meneruskan amanah dan kepemimpinan.
Apakah makna simbolik tersebut kelak benar-benar menemukan jalannya dalam dinamika politik Kabupaten Malang, tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan.
Namun hari itu telah meninggalkan sebuah gambar yang menarik:
Gus Halim memotongnya. H. M. Sanusi menerimanya. Lalu H. Kholiq yang akhirnya mendapatkannya.
Sekadar estafet potongan tumpeng atau pertanda sebuah estafet yang lebih besar?
Politik punya jalannya sendiri. Selebihnya, waktu yang akan menjawab.















